well, disaat sedang badmud hal yg dilakukan adalah membuka2 file2 yg ada di laptop.. akhirnya kebaca lagi deh ini puisi... puisi yang bikin nyesek saat membacanya... puisi yang efek sampingnya bisa banjir air mata. puisi yang benar2 dibuat dari hati oleh Pak Habibie kepada almarhumah istrinya.. Let's cekidot.....
Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu
Karena, aku tau bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya
Dan kematian adalah sesuatu yang pasti
Dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu
Tapi, yang membuatku tersentak sedemikian hebat
Adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang
Sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku nelangsa setengah mati
Hatiku seperti tak ditempatnya, dan tubuhku serasa kosong, hilang isi
Karena, aku tau bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya
Dan kematian adalah sesuatu yang pasti
Dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu
Tapi, yang membuatku tersentak sedemikian hebat
Adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang
Sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku nelangsa setengah mati
Hatiku seperti tak ditempatnya, dan tubuhku serasa kosong, hilang isi
Kau tau sayang,
Rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang
Pada air mata yag jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang
Pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada
Aku bukan hendak mengeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini
Mereka mengira akulah kekasih yang baik bagimu sayang
Tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik
Mana mungkin aku setia, padahal memang kecenderunganku adalah mendua
Tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia
Kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini
Rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang
Pada air mata yag jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang
Pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada
Aku bukan hendak mengeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini
Mereka mengira akulah kekasih yang baik bagimu sayang
Tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik
Mana mungkin aku setia, padahal memang kecenderunganku adalah mendua
Tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia
Kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini
Selamat jalan,
Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya
Kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada
Selamat jalan sayang
Cahaya mataku, penyejuk jiwaku.
Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya
Kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada
Selamat jalan sayang
Cahaya mataku, penyejuk jiwaku.
okeee, untuk kesekian kalinya membaca puisi ini, tetep aja mewek.. keinget sama ibu yang jauh disana.. baik2 ya bu, suatu saat kita pasti ketemu lagi :-)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar